KITAB BATARA GURU/ Petikan Manuskrip Ajaran Batak

 
sumber : http://institusiperguruankeilmuanmelayu.blogspot.com/2012/02/kitab-batara-guru-petikan-manuskrip.html

Kitab ini berisi seluruh rahasia alam tentang terjadinya bumi dan manusia beserta kodrat kehidupan dan kebijakan manusia yang tercermin pada Batara Guru yang mempunyai lambang hitam.

: " Wahai engkau Batara Guru engkaulah tempat bertanya, pengambilan hukum, keterangan, ramalan dari yang paling atas, dari Bukit Siunggas ke Bukit Parsambilan, dari embun yang tujuh-lapis, dari langit ke-tujuh, dari lembah Sitandiang menuju pohon Pakis yang tiga, dari hutan Pungu ke hutan tempat keramat dari Gua Sibada-Bada, dari pohon kayu Simanualang, dari ujung dahan, dari ujung bumi, dari batu Garagajulu itulah tempat penyucianmu, dari rotan terbalik, dari tikar bambu duri, dari simpangan empat, dari rotan terbalik ke bintang yang bercabang ke Batu Sigiling-giling, dari pohon Kayu Junjung Buhit, dari pohon Hariara yang tumbuh di langit itulah jalanmu ke Benua Atas dan Benua Tengah. Jika kau turun ke Benua Tengah mengambil dan mengantar keperluan manusia maka lakukan dari Batu Siukkap-Ukkapon ke batu yang dilangkahi yang datar tapak gadingnya. Itulah jalanmu mengambil dan mengantar kepada manusia, sebab engkaulah yang mempunya Telungkup, punya perahu besar berikat kepala kain yang diputar, punya Gajak Hitam, punya Burung Manggarjati (raja burung yang dapat berbicara). Dibukit Taman Aren, dibawah taman Sirih, jika suatu hari nanti manusia datang kepadamu berikanlah mereka kehidupan sebab engkaulah yang membuka pendengaran manusia, mengetahui kata-kata yang salah dan benar, juga membuka telinga manusia yang punya baju hitam dan kuda hitam".

Adapun isi dari Kitab Batara Guru adalah :
Pada awal permulaan zaman dahulu kala, tersebut nama Tuan Buki Nabolon, Raja Pinang Habo yang tidak pernah mati,tidak pernah tua, tidak laki-laki dan tidak perempuan bersandar dikayu Sikkam Mabarbar di Benua Holing. Pada saat itu Kayu Sikkam Mabarbar berulat, kemudian ulat tersebut jatuh ke dalam laut, dan menjadi asal mulanya ikan beserta segala yang hidup didalam air. Seiring dengan waktu yang tidak diketahui kayu tersebut berulat lagi lalu ulatnya jatuh ke daratan dan menjadi asal mulanya jangkrik, lipan, hala, dll.
Kejadian tersebut terulang kembali, ulat dari Kayu Sikkam Mabarbar jatuh ke hutan belantara dan menjadi awal mulanya harimau, singa, gajah, babi hutan, dll. Seterusnya ulat tadi jatuh ke tanah datar merupakan awal mula dari kerbau, kuda, lembu, kambing, dll.

Akhirnya ulat kayu tersebut jatuh dari langit menjadi tiga ekor burung besar dan mempunyai nama Manuk Patia Raja yang sangat besar, Manuk Hulambu Jati dan Manuk Mandoang-doang. Kemudian Ompunta Raja Mulajadi Nabolon bersabda kepada Siboru Deak Parujar beserta anaknya tentang ke tiga ayam tadi :
- " Apabila suatu hari nanti dari keturunanmu melihat paruhnya maka segera buat sebuah persembahan berupa Babi Simeneng-Eneng agar segala tanaman yang kamu tanam membuahkan hasil.
- Apabila dia menampakkkan perutnya, maka segera buat sebuah persembahan berupa ayam putih agar tidak terjadi mara bahaya.
- Apabila dia menampakkan kupingnya, maka segera buat sebuah persembahan berupa kambing putih agar tidak terjadi wabah penyakit.
- Apabila dia menampakkan jenggernya, maka segera buat persembahan berupa kuda merah agar tidak terjadi kelaparan.
- Apabila dia menampakkan ekornya, maka segera buat persembahan berupa kerbau agar tidak sampai niat jahat dari kekuatan roh dan manusia.
- Apabila dia menampakkan bulunya, maka segera buat persembahan berupa lembu agar tidak terjadi kegelapan.
- Apabila dia menampakkan badannya, maka segera buat persembahan berupa kerbau yang mempunyai empat pusaran agar manusia sehat dan mempunyai rejeki melimpah."

Maka pada akhirnya dari pernyataan diatas, ketentuan tersebut akan menjadi rutinitas manusia kepada penghuni Benua Atas.

2. KODRAT MANUSIA
Pada awalnya, permulaan manusia berasal dari ayam (Manuk Hulambu Jati) yang bertelur tiga butir. Setelah dieram selama satu tahun belum juga menetas. Kemudian tanah di Benua Atas bergetar dan terdengar suara bergema memanggil mereka agar dapat menetas/keluar dari dalam telur tersebut.

Manuk Hulambu Jati (Debata Asi-asi) dengan suara bergema tersebut berkata : “Kalian bertiga akan Aku keluarkan tetapi apa yang Aku ucapkan saat mengeluarkan kalian semuanya akan terjadi”. Maka mereka yang ada didalam telur tersebut(Debata Natolu) menjawab: " kami setuju asal kami bisa keluar ". Kemudian Debata Asi-asi melakukan langkah-langkah mengeluarkan mereka yaitu : Debata Asi-asi menyentuh bagian daerah kepala sambil berkata : "setiap manusia nantinya, akan ada yang kematian Suami, Istri dan Anak.

Debata Asi-asi menyentuh bagian mata sambil berkata : “Setiap manusia akan menangis ".Debata Asi-asi menyentuh bagian telinga sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang tuli".Debata Asi-asi menyentuh bagian mulut sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang sumbing dan ompong". Debata Asi-asi menyentuh bagian pipi sambil berkata : “setiap manusia akan merasa gatal".Debata Asi-asi menyentuh bagian leher sambil berkata : “akan ada manusia menderita penyakit gondok". Debata asi-asi menyentuh bagian bahu sambil berkata : “manusia kelak bersusah payah mencari hidupnya".Debata Asi-asi menyentuh bagian dada sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang lumpuh".Debata Asi-asi menyentuh bagian punggung sambil berkata : “akan ada menusia kelak yang bungkuk".Debata Asi-asi menyentuh bagian tangan sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang menderita penyakit".Debata Asi-asi menyentuh bagian kaki sambil berkata : “keluarlah, keluar dan keluar bagaikan bintang di langit dan pasir di tepi laut, demikianlah banyaknya keturunanmu". Selanjutnya keluarlah tiga manusia laki-laki dari telur tersebut.

Demikian juga halnya pada saat Manuk Hulambu Jati mengeram tiga potong bambu hingga keluarlah tiga orang wanita dari bambu tersebut, yaitu Siboru Porti Bulan, Boru Malimbin Dabini dan Siboru Anggasana. Debata Asi-asi berkata: “Kelak kamu akan susah payah untuk melahirkan anakmu tapi ingatlah Aku akan hadir pada setiap wanita yang melahirkan”.

3. SURATAN MANUSIA
Raja Mulajadi Nabolon duduk di singgasana Benua Atas bersandar di Kayu Sikkam Mabarbar (Kayu Hariara) dan akarnya berjumlah dua puluh enam pada bumi di Batu Manggar Jadi, dahannya ada delapan, rantingnya tiga puluh dan mempunyai buah dua belas. Ke delapan dahannya persis mengikuti arah mata angin antara lain :

Dahan ke arah Timur berupa Mas
Dahan ke arah Tenggara berupa Suasa
Dahan ke arah Selatan berupa Perak
Dahan ke arah Barat Daya berupa Batu
Dahan ke arah Barat berupa Tima
Dahan ke arah Barat Laut berupa Tembaga
Dahan ke arah Utara berupa Besi
Dahan ke arah Timur Laut berupa Kayu

Suratan kehidupan manusia dituliskan di dalam pohon kayu tersebut, antara lain :
Suratan manusia sebagai raja besar yang tak kurang suatu apapun tertulis di sebelah Timur.
Suratan manusia sebagai raja biasa tertulis di sebelah Tenggara.
Suratan manusia menjadi orang yang sangat kaya, tertulis di sebelah Selatan.
Suratan manusia menjadi orang kaya biasa tertulis di sebelah Barat Daya.
Suratan manusia menjadi seorang dukun tertulis di sebelah Barat.
Suratan manusia menjadi rumah tangga yang harmonis tertulis di sebelah Barat Laut.
Suratan manusia yang mempunyai banyak suami dan banyak istri tertulis di sebelah Utara.
Suratan manusia menjadi orang miskin tertulis di sebelah Utara.
Suratan manusia para pembantu tertulis di sebelah Timur Laut.
Suratan manusia yang berumur panjang tertulis di Akar.
Manusia yang berumur pendek tertulis di Dahan.
Manusia yang baru punya anak kemudian meninggal tertulis di Kayu.
Manusia yang meninggal saat muda tertulis di Ranting.
Manusia yang meninggal saat remaja tertulis di Pucuk.
Manusia yang meninggal saat belajar remaja tertulis di Daun.
Manusia yang meninggal saat anak-anak tertulis pada Daun yang sudah tua.
Manusia yang meninggal saat belajar berjalan tertulis pada Tangkai Daun.
Manusia yang meninggal saat belajar melangkah tertulis pada Daun yang sudah tua.
Manusia yang meninggal saat belajar berdiri tertulis pada Daun yang hendak lepas.
Manusia yang meninggal saat sudah bisa duduk tertulis pada Tangkai daun yang sudah tua.
Manusia yang meninggal saat merangkak tertulis pada ujung Daun yang sudah tua.
Manusia yang meninggal saat belajar merangkak tertulis pada Daun yang hendak jatuh.
Manusia yang meninggal saat bisa berbicara tertulis pada Daun yang sudah busuk.
Manusia yang meninggal dari kandungan tertulis pada Daun yang sudah jatuh.
Manusia yang di masuki roh tertulis pada Dahan yang bercabang.
Perempuan yang dapat mengobati tertulis pada Ranting yang sudah tua.
Manusia yang sakti tertulis pada Buah yang bagus.
Manusia penakut dan orang bodoh tertulis pada Buah yang tidak bagus.
Manusia pencuri tertulis pada buah yang hendak jatuh.

Demikianlah suratan tangan hidup manusia, pada dasarnya setiap manusia yang lahir ke dunia ini tidak mengetahui kelak apa yang akan di alami.

D. Naga Padoha Ni Aji

.
Pada suatu hari Manuk-manuk Hulambujati bertelur tiga butir. Hatinya tertegun dan heran, karena telurnya lebih besar dari dirinya. Melihat telur tersebut tidak bisa di erami, kemudian Manuk-manuk Hulambujati menjumpai Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon dan menitipkan pesan, Dia berkata : " E ….. Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, harap murah hatimu menyampaikan dahulu pesan ku ini kepada Ompunta Maulajadi Nabolon, Aku tidak tahu bagaimana akan kuperbuat perihal telurku yang tiga ini, kuperam tidak cukup dengan buluku "! Akhirnya Leangleangmandi menyampaikan pesan itu kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Ia berkata : " Ya Ompung, bagaikan beras yang tidak bercampur dengan antah, yang tidak lupa di pesan yaitu pesan dari Manukmanuk Hulambujati, apa seharusnya dilakukan pada ketiga telurnya itu ?" Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan : " Katakanlah agar telur itu tetap diperami. Aku yang lebih tahu akan hal itu, bawalah dua belas butir beras ini, butiran beras ini harus dimakan setiap bulan. Jika terasa gatal pada paruhnya, patukkan kepada telur itu. " Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Manuk-Manuk Hulambu Jati segera melaksanakan pesan dari Ompunta Mula Jadi Nabolon. Setelah tiba saatnya paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal lalu dipatukkannya kepada tiga butir telur tersebut. Telur itupun berputar dan kemudian keluar dari setiap telur tersebut menyerupai manusia laki-laki. Dari telur pertama keluar Batara Guru Doli, Batara Guru Panungkunan, Batara Guru Pandapotan, yang menjadi kebijakan dari segala kerajaan, memegang timbangan kepada seluruh yang dijadikan, permulaan gantang terajunan, timbangan yang adil, bajak pembelah tali, keatas tiada dapat terungkit, kebawah tak dapat oleng dan kesamping tidak akan miring.Dari telur ketiga, keluar Debata Bala Bulan, Balabulan Matabun, Balabulan Nambun yang rubun dipuncaknya. Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, mengendarai kuda sembarani, pisau bermata dua, bertombak dua ujung, permulaan kuasa perdukunan kepada manusia. Dari telur ketiga itu juga keluar Raja Padoha, Naga Padoha Niaji, bertanduk tujuh, berkuasa di bawah tanah, asal mula dari gempa. Debata Bataraguru, Debata Sorisohaliapan, Debata Balabulan, itulah Debata Natolu, yang tiga Pendirian, tiga kuasa.
Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan kembali pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Pesan tersebut kembali dilaksanakan. Setelah habis ke sebelas butir beras itu dimakan, paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal, kemudian dipatuknya ketiga bambu tersebut sehingga pecah lalu keluarlah dari tiap buku bambu itu tiga wanita, yang pertama bernama, Siboru Porti Bulan, kedua Siboru Malimbin Dabini, ketiga Siboru Anggarana.
Waktu demi waktu terus berjalan keenam anak dan ketiga wanita tersebut semakin dewasa, hal ini membuat hati Manuk-manuk Hulambujati menjadi gelisah. "Apa yang harus aku perbuat terhadap mereka? " pikirnya dalam hati. Akibat kegelisahan yang dialaminya Manuk-Manuk Hulambujati kembali menjumpai Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, kemudian ia berkata: " Berangkatlah engkau tolong tanyakan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, apa yang harus aku perbuat terhadap anak-anak yang telah dewasa ini ". Setelah mengerti maksud dari Manuk-manuk Hulambujati, Leangleangmandi Untung-untung Nabolon segera menyampaikannya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: " Hai Leangleangmandi katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati, jadikanlah ketiga wanita itu menjadi istri Debata Natolu." Kemudian pesan itu disampaikan Leangleangmandi kepada Manukmanuk Hulambujati, maka Manukmanuk Hulambujati melaksanakan pesan tersebut. Akhirnya ketiga wanita tersebut menjadi istri dari Debata Batara Guru, Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan.
Ompunta Mulajadi Nabolon, Manukmanuk Hulambujati berkata: " Ketiga orang itu telah beristri, tetapi bagaimana tentang Siraja Odapodap, Tuan Dihumijati dan Raja Padoha?" Kemudian pesan itupun disampaikan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon oleh Leangleangmandi maka Ompunta Mualajadi Nabolon bersabda kepada Leangleangmandi: " Katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati bahwa Akulah yang memikirkan akan hal itu, dan harus ditunggu anak dari yang tiga tadi, yang akan menjadi istri mereka kelak".
Tetapi setelah pesan itu disampaikan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kepada mereka, Siboru Deakparujar berdalih dan menolak keputusan tersebut, Siboru Deakparujar hanya berpegang pada kemauannya sendiri.
Kemudian Siboru Deakparujar meminta kapas tiga gumpal dari Ompunta Mulajadi Nabolon untuk dijadikan benang. Apabila dapat di tenun menjadi kain (ulos) maka ia akan menerima perjodohannya dengan Siraja Odapodap. Waktu terus berjalan, namun pintalan benang Siboru Deakparujar masih tetap sebesar pinang muda. Patutlah demikian karena yang dipintal pada malam hari pagi-pagi ditanggali, yang ditenun pada siang hari ditanggali pula pada malam hari. Kemudian Mulajadi Nabolon dan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon datang, ternyata pintalan benang yang ditenun Siboru Deakparujar, masih tetap sebesar pinang muda. Akibat yang dipintal pada malam hari pagi-pagi ditanggali, yang ditenun pada siang hari ditanggali pula pada malam hari. Kemudian pintalan benang tersebut tercampak ke halaman batangan, terbenam sangat dalam, sampai tidak dapat di tarik dari tempat tersebut.

Hati Siboru Deakparujar gundah gulana lalu minta tolong kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: " Ambillah tongkat tudutudu tualang nabolon, tusukkan ke dekat pintalan benangmu, lalu tarik dengan hati-hati." Lalu Siboru Deakparujar melaksanakan pesan tersebut, nyatanya pintalan benang itu semakin dalam terbenam. Walaupun demikian ujung benang masih melekat pada alat pemintalannya. Akhirnya pintalan benang tersebut Jatuh dan menarik Siboru Deakparujar sehingga melayang-layang di Benua Tengah di atas air. Siboru Deakparujar bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi. Lalu ia berdiri diatas tanggul , sambil memanggil : " Leangleangmandi Untunguntung Nabolon sahutilah aku dahulu, karena aku tidak tahu semuanya ini. Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menyuruh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon menjumpai Siboru Deakparujar. " Apa yang hendak engkau katakan padaku? " kata Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon. Kemudian Siboru Deakparujar menjawab: " Tanah yang kutempah itu rubuh, aku tidak tahu mengapa demikian. Kini kuharapkan kemurahan hatimu untuk meminta sekepal tanah kepada Ompunta Mula Jadi Nabolon agar kembali sedia kala." Kemudian Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon kembali ke Benua Atas menyampaikan permintaan Siboru Deakparujar kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Sekepal tanah yang diminta tersebut dikabulkan kemudian di bawa oleh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon selanjutnya diberikan kepada Siboru Deakparujar, lalu ia mengulangi kembali tempahannya dan tanah tempahan tersebut kembali seperti sedia kala.

Kemudian Raja Padoha berkata : Mengapa engkau tinggal disini, Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon sudah mundar-mandir menjemputmu untuk kembali ke Benua Ginjang supaya engkau dijodohkan dengan Siraja Odapodap." Kemudian Siboru Deakparujar menjadi marah dan berkata : " Riaspun diatas, batangnya di bawah, dipaksapun keatas dicampakkan ke bawah, bagaimanapun saya tidak akan mau dijodohkan dengan Siraja Odapodap. Pekerjaan inilah yang paling penting bagiku." Lalu Siboru Deakparujar memanggil Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon, meminta sirih kepada saudaranya Nan Bauraja dan Narudung Ulubegu masing-masing satu lembar. Lalu Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon pergi menjemput sirih tersebut kemudian memberikannya kepada Siboru Deakparujar. Selanjutnya sirih tersebut dimakan oleh Siboru Deakparujar kemudian ia menjadi cantik jelita. Lalu di semburkannya sirih tersebut ke pundak Raja Padoha. Semburan air sirih tersebut tepat ke pundak Raja Padoha. Melihat bibir yang merah serta kilauan gigi Siboru Deakparujar ,Raja Padoha bertanya:" apa gerangan itu tolong berikan padaku." Siboru Deakparujar lalu menyahut :" Itu adalah minyak wangi memperbaiki jantung, membuat hati sehat dan segar bernafas. Salah satu kelebihan dari putri raja yang menjadi pertanda kesopanan dan prilaku adat." "Jika demikian maksudnya, harap diberikan juga, agar dapat bersikap sopan santun dan berprilaku adat istiadat" kata Raja Padoha.
"Jika engkau menginginkan itu, satu syarat harus dipenuhi yaitu apa yang saya katakan harus engkau penuhi. Syarat itu adalah bahwa engkau harus kupasung lebih dahulu, agar dapat kuberikan padamu. Jika engkau mengharapkan yang lebih baik untuk diberikan, engkau harus dipasung mulai dari kaki, pinggang sampai dengan tanganmu."

Sejak tanah yang ditempah oleh Siboru Deakparujar tidak rubuh lagi, hanya terban saja yang terjadi sehingga membuat jurang dalam, tebing curam, lembah-lembah, gunung-gunung yang berbukit-bukit. Setelah tanah tersebut selesai ditempah oleh Siboru Deakparujar dengan dataran rendah yang luas namun masih telanjang. Belum ada tumbuhan dan lain-lainnya, maka Siboru Deakparujar memohon kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : " O … Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, selesai sudah tanah itu saya tempa, tetapi tidak tertahankan dinginnya karena tidak ada tempat untuk pemukiman. Karena itu tolonglah minta dahulu kepada Mulajadi Nabolon, tumbuh-tumbuhan pada tanah itu." kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permintaan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menugasi Batara Guru untuk membuat segala jenis benih dari tumbuh-tumbuhan, segala yang terbang dan semua kehidupan bergerak di dalam satu karung. Karung itu ditutup oleh Batara Guru lalu berkata kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : " Nah bawalah ini kepada Siboru Deakparujar, dan katakanlah padanya bukalah karung ini, tetapi lebih dahulu kembangkan tikar disekitarnya dan kamu tidak boleh takut melihat apa saja yang keluar dari dalam karung ini”. Pada suatu hari Siboru Deakparujar berjalan-jalan di atas sisi tanah sambil memandang di sekitarnya melihat keindahan segala sesuatu yang tumbuh. Kemudian terlihat bekas tapak kaki yang serupa dengan tapak kakinya. Lalu ia merenung dan berpikir dalam hatinya : “ siapa gerangan orang yang berlalu dari sini tanpa sepengetahuanku”. Tidak ada seorangpun tempat untuk bertanya kemudian dia hanya diam saja. Melihat bekas tapak kaki tersebut, Siboru Deakparujar berharap agar suatu saat dapat melihat orang yang meninggalkan bekas jejak tapak kaki tersebut. Namun tanpa disangka mereka bertemu, lalu Siraja Odapodap menyapa tunangannya tersebut : “ Rupanya engkau berada disini. Engkau telah lama ditakdirkan menjadi jodohku”. Siboru Deakparujar lalu menyahut :” tidak, jika ada yang cocok, bukan engkau orangnya ". " Tujuh tahun sebenarnya sudah cukup lama dan membosankan, lebih dari itu sepuluh tahun sudah aku nanti," ujar Siraja Odapodap. Siboru Deakparujar menjadi masgul, karena ia lebih cantik dari Siraja Odapodap, lalu ia bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “ Bawalah aku ke Benua Atas, karena aku telah rindu kepada ayahku Batara Guru”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon lalu menjawab : " aha... aku tidak boleh membawamu ke Benua Atas sebelum bertanya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon". namun permohonan tersebut tetap disampaikan, Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berseru kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : " Selama Aku memanggilnya untuk kembali ke Benua Atas, hatinya tetap ingin tinggal di Benua Tengah, maka Biarlah dia tetap di Benua Tengah. Apabila engkau membawanya, engkau akan kena hukuman dariKu”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan pesan tersebut kepada Siboru Deakparujar, dia termenung sambil berpikir, rupanya hal ini sudah menjadi nasibku. Siraja Odapodap kemudian berkata : " jangan engkau bersedih bahwa apa yang telah di takdirkan saatnya pasti akan datang, karena apabila sudah jodoh tidak dapat dielakkan". Kemudian Siboru Deakparujar lalu menangis dan bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon supaya menyampaikan pesan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon agar merestui perkawinannya dengan Siraja Odapodap, karena takdir tak dapat terelakkan. Konon Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : " Biarkanlah ia memberkati dirinya sendiri, bukan karena perintahku maka ia mau, tetapi karena tidak ada jalan lain lagi maka ia berkata demikian. Walaupun begitu bukan berarti bahwa mereka tidak berkembang dengan baik dan sejahtera, akan tetapi ia akan tetap kena hukuman akibat perbuatannya selama ini”. Siboru Deakparujar kemudian bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “Jika harus dihukum juga, aku tetap mengelak tidak mau kawin dengan Siraja Odapodap, akan tetapi apabila Ompunta Mulajadi Nabolon memberitahukan apa bentuk hukuman tersebut, maka aku akan mengambil sikap dan keputusan untuk mengiyakan". kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permohonan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, maka Ompunta Mulajadi Nabolon berkata: " Engkau akan bersusah payah, dan engkau akan berkeringat untuk mencari makanmu ". Setelah mereka sudah menjadi suami istri di Benua Tengah dan tibalah saatnya Siboru Deakparujar pun hamil, lalu meminta tawar perselisihan dan berkat tuah yang agung serta tawar mulajadi . Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kemudian memberikan kepada Siboru Deakparujar dan diselipkan pada kain dan sanggulnya. Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berkata kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : " Katakanlah kepada Siboru Deakparujar, apabila kandungannya sudah lahir itu akan menjadi sanggul-sanggul untuk tanah yang ditempanya ". Mengetahui hal tersebut Siboru Deakparujar berdiam diri karena malunya. Berselang beberapa hari, Siboru Deakparujar melahirkan kandungannya, namun bentuknya seperti bulatan, tidak berkaki, tidak bertangan dan tidak berkepala. Maka ia menjadi bingung karenanya. Pada suatu hari Siboru Deakparujar hamil kembali, kemudian lahirlah anak yang kembar satu laki-laki dan satu perempuan. Nama anak laki-laki Siraja Ihat Manisia atau tuan Mulana dan menjadi permulaan manusia laki-laki. Nama anak perempuan Siboru Ihat Manisia itulah asal-usul ibu manusia. Setelah anak yang dua itu besar, Siboru Deakparujar memesankan kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, agar keluarganya dari Benua Atas datang untuk bergembira serta merestui anaknya yang dua itu. Kemudian datanglah Ompunta Mulajadi Nabolon, Debata Sori, Debata Asiasi, turun dari Benua Atas, langit dari parlangitan, melalui benang urutan Siboru Deakparujar.
Mereka tiba di puncak Gunung Pusuk Buhit, dan dari sanalah tempat permulaan manusia yaitu Sianjurmulamula - Sianjurmulamulajadi - Sianjurmulamulatompa, membelakangi jauh dan berhadapan dengan Toba, berpancuran gelang, bertapian jabi-jabi untuk bercuci muka di pagi hari dan untuk bercuci diri di malam hari. Itulah yang dihimpit dua cabang lautan tempat berpijak Dolok Pusuk Buhit, yang menjadi tempat keramat Nalaga yang tidak boleh dilalui dan tidak boleh bercela. Setelah Ompunta Mulajadi Nabolon tiba di tempat Siboru Deakparujar lalu memberkati mereka. Maka sampailah ke dalam hati mereka apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. kemudian diberitahukan juga jalan atau cara apa yang dapat ditempuh oleh manusia untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon di Benua Atas yaitu berupa sajian (sesajen) dengan benda yang sangat berharga (homitan). Barang homitan yang paling berharga untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon adalah Kuda Sihapaspili. Dan sesajen kepada Mulajadi Nabolon, tepat dua takaran, daun kemangi dan sirih kembang. Kepada Debata Sori, jeruk purut dan tuak di dalam sawan beserta daun kemangi, kepala Balabulan dua lepat, bunga-bungaan mekar dan sirih kembang. Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci ". Maka itulah permulaan yang menjadi dasar hodadebata diurapi manusia.
Setelah genap selesai seluruhnya diatur, Mulajadi Nabolon lalu naik ke Dolok Pusuk Buhit hendak kembali ke Benua Atas, Karena kaki Debata Asiasi timpang-timpang tinggallah ia dibelakang bersama Raja Inggotpaung. Siboru Deakparujar dengan Siraja Odapodap turut juga kembali ke Benua Atas. Setelah kedua anaknya Siraja Ihatmanisia dan Siboru Ihat Manisia dititipkan kepada Debata Asi-asi dan Raja Inggotpaung
Pada saat mereka hendak naik ke Benua Atas, kedua anaknya tersebut terus menatap ingin turut serta, namun tali telah putus hingga gagal. Tali yang putus tersebut beterbangan ke seluruh penjuru desa yang delapan. Sejak itu hanya Batunanggarjati jalan ke Benua Atas dan Debata Asiasi menjadi penghubung antara Benua Tengah dan Benua Atas berulang-ulang.

Ulasan

Catatan Popular